Tut tut tut tut.........
Tut tut tut tut........
“Rez... hp lo bunyi terus tuh daritadi, pusing gue dengernya!” tegur Derby pada Reza yang sedari tadi sibuk menggunting-gunting kertas macam anak tk mau buat prakarya.
“Oh ya? Kok lo gak bilang daritadi sih broo??” jawab Reza panik sambil beranjak mengambil hpnya yang tergeletak di lantai.
“Ya gue kira lo juga denger.....” ujar Derby terputus ketika melihat earphone yang terpasang di telinga sahabatnya itu. Derby pun tersenyum maklum dengan kebiasaan Reza yang suka memakai earphone, headphone, dan sebangsanya itu walaupun tidak ada musik yang didengarkan.
“Aduh! Mati gue....” gumam Reza.
“Apa lagi ??” ujar Derby gemas melihat tingkah sahabatnya itu.
“Di Kemang rame Rezanisme Der, gimana caranya gue jemput Faza yaa?”
“Emangnya harus lo yang jemput, Rez? Bukannya dia ada supir?”
“Hari ini anniversary 1 tahun gue sama dia Der, mana minggu depan dia berangkat kuliah, kapan lagi kami ada waktu berdua kalo gak sekarang ...”
“Gue bersama segenap band lo turut prihatin atas kejadian yang menimpa lo ini Rez.....”
“Rese’ lo! Ya udah gue balik ya, nekat aja deh gue, terserah mereka mau ngomong apa” ujar Reza sambil
beranjak pergi.
“Masalahnya yang mereka omongin itu bukan lo tapi cewek lo, gue aja panas dengernya apalagi cewek lo Rez....” ujar Derby prihatin.
“Gue cowoknya yo, dan gue bakal lindungin dia!” ujar Reza tegas dan berlalu meninggalkan Derby.
“Nah ini baru Reza yang gue kenal....” gumam Derby sambil tersenyum.
Di Kemang.....
“Kamu kenapa gak pake kacamata?” tanya Faza heran karena tahu minus pacarnya itu cukup besar.
“Kacamata aku kan mata jernih kamu, jadi aku gak butuh lagi alat bantu penglihatan yang lain. Cukup kamu. “ ujar Reza berusaha menggombal tapi gagal total.
“Hueeek apaan tuh? Bukan kamu banget, geli aku dengernya...” timpal Faza.
“Sial nih Derby, ngajarin gue gombal gak mutu gini, bukannya romantis malah jadi lawak kan...” gumam Reza dalam hati.
“Oh ya, visa-ku udah jadi. Packing juga udah selesai. Besok aku ada farewell party sama temen-temen Fazers, kamu dateng yaah please.....”
“Aduh aku lupa kasih tau kamu, besok aku ada schedule off air di luar kota nih... gimana yaa.....” ujar Reza dengan nada sedih.
Faza terdiam. Ia sekuat mungkin berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
"Oh..." jawabnya datar namun dengan suara yang mulai bergetar.
"Faz? Gimana ya......"
“Ya gak gimana-gimana kan? Ya kamu perform aja, hibur Rezanisme, biasanya juga kayak gitu kan?? “ jawab Faza mulai terisak.
Reza tersentak. Ini pertama kalinya ia melihat wanita yang amat disayanginya ini menangis. Faza adalah wanita terkuat ketiga bagi Reza setelah ibu dan kedua orang saudara perempuannya. Ia tahu dan sangat tahu bahwa airmata ini airmata yang sudah lama Faza pendam dan akhirnya keluar juga. Begitu banyak hinaan dan kritikan pedas yang Faza terima selama berada di sisi Reza dan tak sekalipun wanita ini mengeluh. Yang dapat Reza ucapkan pada Faza hanyalah kata sabar, sabar, dan sabar tanpa pernah ia coba mengerti perasaannya.
“Ya udah ya aku pulang aja, aku capek mau istirahat, aku bakal usahain supaya keberangkatan aku bisa dipercepat biar gak lama-lama ngerepotin kamu. Oya satu lagi, biar kamu makin punya banyak waktu sama fans-fans kamu.” ujar Faza sambil berlalu pergi dengan cepat.
Dengan cepat juga Reza mencegahnya dan menarik Faza dalam pelukannya. Faza menangis kencang di pelukan Reza. Ia menyesali mengapa di hari-hari terakhir kebersamaan mereka justru hal seperti ini harus terjadi.
“Sabar Faza.....” ujar Reza lembut.
“Sampai kapan??” jawab Faza sambil terisak makin kencang.
“Kamu perlu tahu.... kamu dan Rezanisme itu berarti buat aku. Kalian tanggung jawab aku, dan aku gak akan pernah bisa ngelepasin salah satu dari kalian.”
“Kalau kamu gak bisa ngelepasin salah satu dari kami, biarin aku yang mundur.” ujar Faza pelan tapi jelas seraya melepaskan diri dari pelukan Reza.
Reza terdiam. Terlihat sekali kata-kata itu sudah lama Faza siapkan. Sedalam itukah rasa sakit yang selama ini Faza tanggung sendirian? Secuek itukah Reza sampai tidak sadar bahwa Faza selama ini terluka berada di sisinya??
“Kamu serius ngomong gitu? Aku sayang sama kamu, dan aku pengen kita terus sama-sama walaupun nanti kamu kuliah di tempat yang jauh.”
“Masalahnya sekarang bukan hanya soal jarak, Rez. Kamu masih punya banyak tanggung jawab disini. Aku sabar Rez, tapi biarkan sabarku ini aku simpan sampai kamu jadi pria dewasa yang bisa concern sama tanggung jawab yang kamu punya.” ujar Faza berusaha tegar.
“Jadi?” tanya Reza bingung.
“Aku jalani hidupku dan kamu jalani hidupmu. Jika kita memang berjodoh, pasti akan menemukan jalannya sendiri.” ujar Faza kali ini dengan senyum.
Rama berdiri mematung. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Faza sudah berlalu pergi meninggalkannya tapi ia masih saja sulit mencerna kata-kata wanita itu. Namun jauh di lubuk hatinya, Reza tahu bahwa Faza tak benar-benar meninggalkannya.
Malam hari sebelum keberangkatan Faza
Sleepy darling will you wake up...............
Hp Faza berbunyi. Ia tahu siapa yang menghubunginya, ringtone itu khusus untuk Reza, pacarnya. Lagu ciptaan Faza yang sangat perhatian dengan kebiasaan tidur pacarnya itu yang sangat sulit untuk dibangunkan.
“Voice note??” gumam Faza dalam hati sambil memeluk erat gitar kesayangannya.
Sabar....... sabarlah cintaku...
Takkan selamanya, karena sebenarnya......
Kau tahu sesungguhnya, aku.........
Aku yang paling kau cinta..
Aku yang paling kau mau...
Rahasiakan aku, sedalam-dalamnya cintamu...
Aku yang pasti kau cinta...
Aku yang pasti kau mau..
Selamanya.... di hidupmu.... aku kekasihmu...
Suara merdu Reza mengalun indah menyanyikan lagu yang baru pertama kali Faza dengar. Lagu tentang kesabaran cinta, cinta mereka berdua.
Received message:
From Sleepyhead
Lagunya belum selesai hehee..... belum ada judulnya juga, itu aku baru buat malem ini. Buat kamu. Buat kita. Bagus gak ? hehehee....
Faza tersenyum. Reza bersikap seperti kemarin tidak terjadi apa-apa. Ini yang kadang membuat Faza kesal, tapi juga di sisi lain merindukannya. Rasanya ingin sekali ia membalas pesan Reza detik itu juga, namun urung karena ia tahu hal itu akan membuatnya semakin berat meninggalkan laki-laki itu.
Malam itu, lagu tak berjudul kiriman Reza terus Faza putar ulang hingga ia lelap tertidur, dalam tangis.
Di tempat lain, denting piano mengalun lembut dimainkan oleh seorang pemuda. Reza.
Keesokan harinya....
“Kamu yakin gak mau kasih tau Reza kalau penerbanganmu dipercepat?” tanya mama Faza khawatir saat berada di mobil menuju ke bandara.
“Gak ma, aku yakin. Hubungan kami butuh waktu, ma.” jawab Faza meyakinkan mamanya yang sudah sangat sayang dengan Reza.
“Tapi waktu 3 tahun itu terlalu lama Faz buat hubungan menggantung seperti itu. Kalau Reza sama cewek lain kamu rela?”
Pertanyaan mama Faza tepat sasaran. Faza terlalu sayang dengan Reza. Reza terlalu berharga buat ditinggalkan. Tapi apakah Reza berpikiran sama dengannya? Apakah Reza menganggapnya berharga??
“Ma.... kalau jodoh pasti bertemu. “ jawab Faza lemas. Hanya itu yang dapat ia katakan. Ia pun tak yakin kalau Reza adalah jodohnya. Lagi, Faza menangis dalam diam menuju bandara.
Di tempat lain
Reza mengaktifkan hpnya. Satu panggilan tak terjawab dari mama Faza, 5 menit yang lalu. Feeling yang tepat membawa Reza menuju ke bandara.
Di bandara
“Buat apa sih kamu sembunyiin jam keberangkatan kamu dari aku?” tanya Reza sedih.
“Buat apa aku kasih tau jam keberangkatan aku sama kamu? Buat apa? Toh sekarang atau nanti aku juga bakal tetep berangkat kan? Kita juga bakal tetep pisah.” jawab Faza berusaha tegar.
“Bukan begini akhir yang aku harapkan.....” ujar Reza lirih.
“Begitu juga aku rez.....” gumam Faza dalam hati.
“Aku udah boarding Rez, aku pamit ya.. Kamu baik-baik disini, salam buat temen-temen Rezanisme. Bilang sama mereka, makasih atas semua kritik dan sarannya buat aku. Aku juga minta maaf belum bisa jadi pacar kamu yang sempurna di mata mereka. Aku tahu di balik sikap mereka itu, mereka punya cinta yang begitu besar buat kamu yang mungkin gak sebanding dengan besarnya cinta aku buat kamu. Bye rez....”
“Aku gak butuh yang sempurna Faz, karena aku juga gak sempurna. Aku akan tunggu kamu... sampai ketemu 3 tahun lagi. Di saat kita ketemu nanti, aku udah jadi pria dewasa yang lebih bertanggung jawab. Bertanggung jawab sama profesiku, fansku, keluargaku, dan wanita hebat yang akan jadi pendamping hidupku.” ujar Reza yakin.
“Oh yaa? Oke....... just wait and see it Mr. Sleepyhead!” jawab Faza sedih bercampur senang. Ia bisa lega meninggalkannya.
“Kamu udah dewasa, Rez.” ujar Faza dalam hati.
“Aku boleh kasih salam perpisahan gak buat kamu?” tanya Reza.
“Apa?”
“Tutup mata dong....”
“Iiiih apaan sih. Tumben-tumbenan banget kamu nyuruh aku kayak gini.” ujar Faza sambil ngedumel namun tetap melaksanakan apa yang diperintahkan Reza.
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Faza. Kecupan perpisahan. Faza tidak merespon tidak juga menghindar. Namun Reza dapat melihat air mata mengalir di sudut mata gadis tersebut. Ah, Reza benci perpisahan.
Setelah itu Faza dan mamanya bergegas menuju pesawat. Tidak ada lagi kesedihan. Yang Faza mau hanyalah cepat sampai ke kampusnya, kuliah yang baik, lulus cumlaude dengan waktu yang cepat dan segera kembali ke tanah air, menemui orang-orang yang menunggunya.
Dua tahun 11 bulan 19 hari kemudian
Newyork, 19 Desember 2016
“Ma, acha mana ma?” tanya Reza santai pada mamanya.
“Loh? Kok tanya mama? Tadi kan sama kamu.....” jawab mamanya heran.
“Ma, serius ma? Adooooohh!!!!!” Reza mulai panik mencari Acha, adik laki-lakinya.
Baru sebentar Reza mencari, dia sudah dapat melihat tubuh gempal adiknya itu sedang asyik duduk di taman sambil bersenandung memakai earphone miliknya plus ipod kesayangannya.
“Dasar ini anak.......” gumam Reza dalam hati sambil berjalan menuju adiknya tersebut.
“Heh! Ngapain berdiri terus disitu? Sini dong duduk, kita dengerin sama-sama suara sumbang cowok yang hobi banget ngomong sabar...sabar... sampe dijadiin lagu buat ceweknya.” ujar Faza santai.
“Sumbang? Merdu kalii.......” jawab Reza masih gugup, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kamu gak tanya kenapa aku bisa ada disini sekarang?” tanya Faza.
“Gak perlu. Kan kamu yang bilang, kalau jodoh akan menemukan jalannya sendiri. Aku selalu inget kata-kata itu....” jawab Reza diplomatis.
“Yeee geer banget sih, emang iya kita jodoh? Aku itu dari UK terbang kesini ke white house wawancara obama tau....terus ke Newyork mau cuci mata cari cowok ganteng, eh malah nemunya adik kamu. Tadinya aku kira bukan Acha, tapi aku kenal banget ipod yang dia pegang. Acha kurusan ya sekarang, lebih ganteng dari kakaknya.....” ujar Faza panjang lebar.
Reza tidak tahan untuk tidak menghambur memeluk Faza. Betapa rindunya ia pada gadis itu.
“Heh! Ada anak kecil tau....” ujar Faza.
“Ciee... yang udah 21 tahun, yang bukan anak kecil lagi.... aku masih ngeliat kamu kayak Faza yang 18 tahun tau hahahahaaaa........ btw, happy birthday. Sayang......” ujar Reza.
“Thank you Mr. Sleepyhead!! Masih susah dibangunin gak?”
“Kalo yang ngebangunin kamu gak kok, kan bentar lagi kamu yang bakal bangunin aku tiap hari.”
“Hah?”
“Faz, nikah yuk!”
“Hah? Apaan? Gitu doang?”
“Yaaah..... kamu kan tau aku gak bisa romantis....”
“Gak mau!”
“Faza........”
“Halah....”
“Seriusan....”
“Boong aja...”
“Ayok geh....”
“Males lah......”
Dan mereka bertengkar lagi, namun kali ini pertengkaran kerinduan. Tepat hari itu, di hari ulang tahun Faza yang ke 21 tahun, Reza melamarnya. Pernikahan mereka akan dilangsungkan setelah Faza wisuda. Cinta mereka sudah menemukan jalannya. Percaya, bahwa kesabaran tidak akan pernah sia-sia. Cinta kadang butuh waktu. Dua orang yang selalu bersama-sama perlu diuji cintanya dengan berpisah sementara. Dua orang yang saling mencintai perlu diuji cintanya dengan lingkungan yang menentang mereka. Itu wajar, bergantung pada bagaimana pasangan tersebut sama-sama berjuang untuk hubungan mereka. Yang penting, sabar..............................
Tut tut tut tut........
“Rez... hp lo bunyi terus tuh daritadi, pusing gue dengernya!” tegur Derby pada Reza yang sedari tadi sibuk menggunting-gunting kertas macam anak tk mau buat prakarya.
“Oh ya? Kok lo gak bilang daritadi sih broo??” jawab Reza panik sambil beranjak mengambil hpnya yang tergeletak di lantai.
“Ya gue kira lo juga denger.....” ujar Derby terputus ketika melihat earphone yang terpasang di telinga sahabatnya itu. Derby pun tersenyum maklum dengan kebiasaan Reza yang suka memakai earphone, headphone, dan sebangsanya itu walaupun tidak ada musik yang didengarkan.
“Aduh! Mati gue....” gumam Reza.
“Apa lagi ??” ujar Derby gemas melihat tingkah sahabatnya itu.
“Di Kemang rame Rezanisme Der, gimana caranya gue jemput Faza yaa?”
“Emangnya harus lo yang jemput, Rez? Bukannya dia ada supir?”
“Hari ini anniversary 1 tahun gue sama dia Der, mana minggu depan dia berangkat kuliah, kapan lagi kami ada waktu berdua kalo gak sekarang ...”
“Gue bersama segenap band lo turut prihatin atas kejadian yang menimpa lo ini Rez.....”
“Rese’ lo! Ya udah gue balik ya, nekat aja deh gue, terserah mereka mau ngomong apa” ujar Reza sambil
beranjak pergi.
“Masalahnya yang mereka omongin itu bukan lo tapi cewek lo, gue aja panas dengernya apalagi cewek lo Rez....” ujar Derby prihatin.
“Gue cowoknya yo, dan gue bakal lindungin dia!” ujar Reza tegas dan berlalu meninggalkan Derby.
“Nah ini baru Reza yang gue kenal....” gumam Derby sambil tersenyum.
Di Kemang.....
“Kamu kenapa gak pake kacamata?” tanya Faza heran karena tahu minus pacarnya itu cukup besar.
“Kacamata aku kan mata jernih kamu, jadi aku gak butuh lagi alat bantu penglihatan yang lain. Cukup kamu. “ ujar Reza berusaha menggombal tapi gagal total.
“Hueeek apaan tuh? Bukan kamu banget, geli aku dengernya...” timpal Faza.
“Sial nih Derby, ngajarin gue gombal gak mutu gini, bukannya romantis malah jadi lawak kan...” gumam Reza dalam hati.
“Oh ya, visa-ku udah jadi. Packing juga udah selesai. Besok aku ada farewell party sama temen-temen Fazers, kamu dateng yaah please.....”
“Aduh aku lupa kasih tau kamu, besok aku ada schedule off air di luar kota nih... gimana yaa.....” ujar Reza dengan nada sedih.
Faza terdiam. Ia sekuat mungkin berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
"Oh..." jawabnya datar namun dengan suara yang mulai bergetar.
"Faz? Gimana ya......"
“Ya gak gimana-gimana kan? Ya kamu perform aja, hibur Rezanisme, biasanya juga kayak gitu kan?? “ jawab Faza mulai terisak.
Reza tersentak. Ini pertama kalinya ia melihat wanita yang amat disayanginya ini menangis. Faza adalah wanita terkuat ketiga bagi Reza setelah ibu dan kedua orang saudara perempuannya. Ia tahu dan sangat tahu bahwa airmata ini airmata yang sudah lama Faza pendam dan akhirnya keluar juga. Begitu banyak hinaan dan kritikan pedas yang Faza terima selama berada di sisi Reza dan tak sekalipun wanita ini mengeluh. Yang dapat Reza ucapkan pada Faza hanyalah kata sabar, sabar, dan sabar tanpa pernah ia coba mengerti perasaannya.
“Ya udah ya aku pulang aja, aku capek mau istirahat, aku bakal usahain supaya keberangkatan aku bisa dipercepat biar gak lama-lama ngerepotin kamu. Oya satu lagi, biar kamu makin punya banyak waktu sama fans-fans kamu.” ujar Faza sambil berlalu pergi dengan cepat.
Dengan cepat juga Reza mencegahnya dan menarik Faza dalam pelukannya. Faza menangis kencang di pelukan Reza. Ia menyesali mengapa di hari-hari terakhir kebersamaan mereka justru hal seperti ini harus terjadi.
“Sabar Faza.....” ujar Reza lembut.
“Sampai kapan??” jawab Faza sambil terisak makin kencang.
“Kamu perlu tahu.... kamu dan Rezanisme itu berarti buat aku. Kalian tanggung jawab aku, dan aku gak akan pernah bisa ngelepasin salah satu dari kalian.”
“Kalau kamu gak bisa ngelepasin salah satu dari kami, biarin aku yang mundur.” ujar Faza pelan tapi jelas seraya melepaskan diri dari pelukan Reza.
Reza terdiam. Terlihat sekali kata-kata itu sudah lama Faza siapkan. Sedalam itukah rasa sakit yang selama ini Faza tanggung sendirian? Secuek itukah Reza sampai tidak sadar bahwa Faza selama ini terluka berada di sisinya??
“Kamu serius ngomong gitu? Aku sayang sama kamu, dan aku pengen kita terus sama-sama walaupun nanti kamu kuliah di tempat yang jauh.”
“Masalahnya sekarang bukan hanya soal jarak, Rez. Kamu masih punya banyak tanggung jawab disini. Aku sabar Rez, tapi biarkan sabarku ini aku simpan sampai kamu jadi pria dewasa yang bisa concern sama tanggung jawab yang kamu punya.” ujar Faza berusaha tegar.
“Jadi?” tanya Reza bingung.
“Aku jalani hidupku dan kamu jalani hidupmu. Jika kita memang berjodoh, pasti akan menemukan jalannya sendiri.” ujar Faza kali ini dengan senyum.
Rama berdiri mematung. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Faza sudah berlalu pergi meninggalkannya tapi ia masih saja sulit mencerna kata-kata wanita itu. Namun jauh di lubuk hatinya, Reza tahu bahwa Faza tak benar-benar meninggalkannya.
Malam hari sebelum keberangkatan Faza
Sleepy darling will you wake up...............
Hp Faza berbunyi. Ia tahu siapa yang menghubunginya, ringtone itu khusus untuk Reza, pacarnya. Lagu ciptaan Faza yang sangat perhatian dengan kebiasaan tidur pacarnya itu yang sangat sulit untuk dibangunkan.
“Voice note??” gumam Faza dalam hati sambil memeluk erat gitar kesayangannya.
Sabar....... sabarlah cintaku...
Takkan selamanya, karena sebenarnya......
Kau tahu sesungguhnya, aku.........
Aku yang paling kau cinta..
Aku yang paling kau mau...
Rahasiakan aku, sedalam-dalamnya cintamu...
Aku yang pasti kau cinta...
Aku yang pasti kau mau..
Selamanya.... di hidupmu.... aku kekasihmu...
Suara merdu Reza mengalun indah menyanyikan lagu yang baru pertama kali Faza dengar. Lagu tentang kesabaran cinta, cinta mereka berdua.
Received message:
From Sleepyhead
Lagunya belum selesai hehee..... belum ada judulnya juga, itu aku baru buat malem ini. Buat kamu. Buat kita. Bagus gak ? hehehee....
Faza tersenyum. Reza bersikap seperti kemarin tidak terjadi apa-apa. Ini yang kadang membuat Faza kesal, tapi juga di sisi lain merindukannya. Rasanya ingin sekali ia membalas pesan Reza detik itu juga, namun urung karena ia tahu hal itu akan membuatnya semakin berat meninggalkan laki-laki itu.
Malam itu, lagu tak berjudul kiriman Reza terus Faza putar ulang hingga ia lelap tertidur, dalam tangis.
Di tempat lain, denting piano mengalun lembut dimainkan oleh seorang pemuda. Reza.
Keesokan harinya....
“Kamu yakin gak mau kasih tau Reza kalau penerbanganmu dipercepat?” tanya mama Faza khawatir saat berada di mobil menuju ke bandara.
“Gak ma, aku yakin. Hubungan kami butuh waktu, ma.” jawab Faza meyakinkan mamanya yang sudah sangat sayang dengan Reza.
“Tapi waktu 3 tahun itu terlalu lama Faz buat hubungan menggantung seperti itu. Kalau Reza sama cewek lain kamu rela?”
Pertanyaan mama Faza tepat sasaran. Faza terlalu sayang dengan Reza. Reza terlalu berharga buat ditinggalkan. Tapi apakah Reza berpikiran sama dengannya? Apakah Reza menganggapnya berharga??
“Ma.... kalau jodoh pasti bertemu. “ jawab Faza lemas. Hanya itu yang dapat ia katakan. Ia pun tak yakin kalau Reza adalah jodohnya. Lagi, Faza menangis dalam diam menuju bandara.
Di tempat lain
Reza mengaktifkan hpnya. Satu panggilan tak terjawab dari mama Faza, 5 menit yang lalu. Feeling yang tepat membawa Reza menuju ke bandara.
Di bandara
“Buat apa sih kamu sembunyiin jam keberangkatan kamu dari aku?” tanya Reza sedih.
“Buat apa aku kasih tau jam keberangkatan aku sama kamu? Buat apa? Toh sekarang atau nanti aku juga bakal tetep berangkat kan? Kita juga bakal tetep pisah.” jawab Faza berusaha tegar.
“Bukan begini akhir yang aku harapkan.....” ujar Reza lirih.
“Begitu juga aku rez.....” gumam Faza dalam hati.
“Aku udah boarding Rez, aku pamit ya.. Kamu baik-baik disini, salam buat temen-temen Rezanisme. Bilang sama mereka, makasih atas semua kritik dan sarannya buat aku. Aku juga minta maaf belum bisa jadi pacar kamu yang sempurna di mata mereka. Aku tahu di balik sikap mereka itu, mereka punya cinta yang begitu besar buat kamu yang mungkin gak sebanding dengan besarnya cinta aku buat kamu. Bye rez....”
“Aku gak butuh yang sempurna Faz, karena aku juga gak sempurna. Aku akan tunggu kamu... sampai ketemu 3 tahun lagi. Di saat kita ketemu nanti, aku udah jadi pria dewasa yang lebih bertanggung jawab. Bertanggung jawab sama profesiku, fansku, keluargaku, dan wanita hebat yang akan jadi pendamping hidupku.” ujar Reza yakin.
“Oh yaa? Oke....... just wait and see it Mr. Sleepyhead!” jawab Faza sedih bercampur senang. Ia bisa lega meninggalkannya.
“Kamu udah dewasa, Rez.” ujar Faza dalam hati.
“Aku boleh kasih salam perpisahan gak buat kamu?” tanya Reza.
“Apa?”
“Tutup mata dong....”
“Iiiih apaan sih. Tumben-tumbenan banget kamu nyuruh aku kayak gini.” ujar Faza sambil ngedumel namun tetap melaksanakan apa yang diperintahkan Reza.
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Faza. Kecupan perpisahan. Faza tidak merespon tidak juga menghindar. Namun Reza dapat melihat air mata mengalir di sudut mata gadis tersebut. Ah, Reza benci perpisahan.
Setelah itu Faza dan mamanya bergegas menuju pesawat. Tidak ada lagi kesedihan. Yang Faza mau hanyalah cepat sampai ke kampusnya, kuliah yang baik, lulus cumlaude dengan waktu yang cepat dan segera kembali ke tanah air, menemui orang-orang yang menunggunya.
Dua tahun 11 bulan 19 hari kemudian
Newyork, 19 Desember 2016
“Ma, acha mana ma?” tanya Reza santai pada mamanya.
“Loh? Kok tanya mama? Tadi kan sama kamu.....” jawab mamanya heran.
“Ma, serius ma? Adooooohh!!!!!” Reza mulai panik mencari Acha, adik laki-lakinya.
Baru sebentar Reza mencari, dia sudah dapat melihat tubuh gempal adiknya itu sedang asyik duduk di taman sambil bersenandung memakai earphone miliknya plus ipod kesayangannya.
“Dasar ini anak.......” gumam Reza dalam hati sambil berjalan menuju adiknya tersebut.
Namun langkah Reza terhenti ketika tau Acha tidak sendirian. Sebelah earphone nya dipakai oleh seorang gadis yang ia kenal betul walau hanya melihat punggungnya saja. Deg! Reza belum siap. Ia belum merangkai kata-kata manis yang ingin ia ucapkan pada gadis yang amat dicintainya itu.
“Sumbang? Merdu kalii.......” jawab Reza masih gugup, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kamu gak tanya kenapa aku bisa ada disini sekarang?” tanya Faza.
“Gak perlu. Kan kamu yang bilang, kalau jodoh akan menemukan jalannya sendiri. Aku selalu inget kata-kata itu....” jawab Reza diplomatis.
“Yeee geer banget sih, emang iya kita jodoh? Aku itu dari UK terbang kesini ke white house wawancara obama tau....terus ke Newyork mau cuci mata cari cowok ganteng, eh malah nemunya adik kamu. Tadinya aku kira bukan Acha, tapi aku kenal banget ipod yang dia pegang. Acha kurusan ya sekarang, lebih ganteng dari kakaknya.....” ujar Faza panjang lebar.
Reza tidak tahan untuk tidak menghambur memeluk Faza. Betapa rindunya ia pada gadis itu.
“Heh! Ada anak kecil tau....” ujar Faza.
“Ciee... yang udah 21 tahun, yang bukan anak kecil lagi.... aku masih ngeliat kamu kayak Faza yang 18 tahun tau hahahahaaaa........ btw, happy birthday. Sayang......” ujar Reza.
“Thank you Mr. Sleepyhead!! Masih susah dibangunin gak?”
“Kalo yang ngebangunin kamu gak kok, kan bentar lagi kamu yang bakal bangunin aku tiap hari.”
“Hah?”
“Faz, nikah yuk!”
“Hah? Apaan? Gitu doang?”
“Yaaah..... kamu kan tau aku gak bisa romantis....”
“Gak mau!”
“Faza........”
“Aku gak suka lirik lagu kamu yang terakhir. Masa’ selamanya..... di hidupmu.... aku kekasihmu.... terus kapan nikahnya kalo pacaran terus?” tanya Faza sok ngambek.
“Sekarang.”“Halah....”
“Seriusan....”
“Boong aja...”
“Ayok geh....”
“Males lah......”
Dan mereka bertengkar lagi, namun kali ini pertengkaran kerinduan. Tepat hari itu, di hari ulang tahun Faza yang ke 21 tahun, Reza melamarnya. Pernikahan mereka akan dilangsungkan setelah Faza wisuda. Cinta mereka sudah menemukan jalannya. Percaya, bahwa kesabaran tidak akan pernah sia-sia. Cinta kadang butuh waktu. Dua orang yang selalu bersama-sama perlu diuji cintanya dengan berpisah sementara. Dua orang yang saling mencintai perlu diuji cintanya dengan lingkungan yang menentang mereka. Itu wajar, bergantung pada bagaimana pasangan tersebut sama-sama berjuang untuk hubungan mereka. Yang penting, sabar..............................
.. end..
Tribute to :
@afgansyah_reza
@maudyayunda
Thank to both of you that inspired me to write this story :)